Jodoh(?)/(!)

Untuk pertama kalinya aku akan menulis tentang sesuatu yang ga berhubungan dengan pengalaman menjelajah suatu tempat, tapi ini masih tentang perjalanan kok, perjalanan hidup lebih tepatnya… oops… kali kali curhat colongan di blog boleh kali ya.

jodoh

Jodoh… satu kata yang agak terlupakan dari hidup seorang Ria. Maksudku, aku tipe orang yang selalu punya wishlist yang sebisa mungkin aku wujudkan, tapi masalah jodoh, aku terkesan ga peduli dan pasrah, aku selalu bergantung pada kalimat “biar Tuhan yang atur segalanya”, sampai kamis kemarin, aku bertemu dengan Teh Syifa dan Teh Laras. Tema obrolan kami yang biasanya seputar tema-tema tak biasa dan tabu tiba tiba berubah menjadi seputar lelaki potensial yang kami pikir bisa kami sebut sebagai jodoh kami masing-masing.

Seperti biasa, ngobrol dengan dua temanku itu memang selalu membuatku “mikir”. Kali ini mikirin hidupku yang kayanya berpusat pada Dani dan SHINee. Kayanya aku terlalu sibuk menyayangi mereka deh, sampe sampe aku lupa, kalau aku juga butuh seseorang yang menyayangiku. Eaaa. Tapi emang bener sih, setelah obrolan itu aku jadi inget berbagai macam kode yang dilancarkan orang tuaku untuk mengorek informasi tentang pacarku. Sampai sampai Mama ku pernah mengira aku berpacaran dengan seseorang bernama Mas Ricci, padahal kenyataannya Mas Ricci yang ku maksud adalah Daniel Ricciardo si pembalap F1.

Hahh… Mungkin saatnya untuk mengaku, kalau aku terlalu lama bersembunyi di balik kalimat “biar Tuhan yang atur segalanya”. Padahal aku tipe orang yang percaya kalau Tuhan baru akan membantu hamba-Nya ketika dia berusaha, dan selama ini aku ga berusaha menemukan jodohku, makanya ga pernah nemu laki-laki yang satu frekuensi denganku, yang bisa membuatku nyaman dan menunggu-menunggu kapan dia menghubungiku dan mengajakku bertemu. Duh, jadi baper deh.

Masalah jodoh memang pasti membingungkan untuk yang belum menemukannya. Tambah bingung lagi kalau si manusianya ga ada usaha kaya aku. Karena seperti penggalan lirik lagu Perahu Kertas, “dan kau ada di antara milyaran manusia, dan ku bisa dengan radarku menemukanmu”. Yang intinya (menurut versiku), walaupun bingung nyari satu orang berlabel “jodohku” di tengah milyaran manusia (yang mungkin sedang mencari jodohnya juga), dengan kemungkinan aku salah menilai orang yang ku kira bahwa dia jodohku tapi ternyata bukan (dan aku yakin kejadian itu akan berulang beberapa kali), aku harus tetap mencari sampai akhirnya aku menemukan jodohku yang sesungguhnya dan aku bisa berkata, “ya, itu dia!”

Jadi… untuk jodohku, tolong cari aku selama aku mencarimu.

@riyuliani

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s