Di Balik Layar 22.03

Udah lama ga nulis, terakhir nulis blog tahun 2015, apa apaan ini?! Segitu membosankannya kah hidupku sampe ga ada cerita yang bisa aku bagi di blog?! I’m like T.T just like T.T, tapi sudahlah, dari pada mengeluh lebih baik aku mulai menceritakan kisahku yang satu ini.

IMG20170322083326

Tanggal 22 Maret kemarin, aku dan seorang temanku mendapatkan undangan psikotest di sebuah stasiun televisi swasta (*yang tanpa aku sebut merknya pasti orang orang sudah tau), butuh berpikir 1000x untuk aku memilih kata “ya” dan datang mengikuti psikotest tersebutnya, bukannya aku pilih pilih, tapi tempat psikotestnya di SICC, Sentul. Iya, Sentul, yang walaupun sudah diiming-imingi Dani Pedrosa tapi Ria ga pernah mampu sampai ke sana. Sentul terlalu untouchable buat aku yang ke mana-mana mengandalkan damri, apalagi ga ada Primajasa jurusan Bogor yang bisa aku cegat di gerbang tol Cileunyi. Tapi di saat diriku sudah pasrah, berbagai macam ide malah satu persatu mulai datang ke kepalaku, mulai dari sewa mobil, sewa kamar sampai naik kereta malam dan melakukan perjalanan horor jam 1 malam dari Kiara Condong. Dan pilihanku jatuh pada menyewa kamar di salah satu wisma yang ada di Bogor.

Tanggal 21 Maret, aku pergi dari terminal Leuwi Panjang, seperti yang aku jelaskan sebelumnya, aku ga sendirian karena ada Wafda yang menemaniku dan menyemangatiku dengan kata-katanya yang menusuk tepat di hatiku (*eaa), katanya “masa kita bisa ke Sepang buat nonton MotoGP, tapi ga bisa ke Bogor buat psikotest” dan semangatku untuk mengikuti psikotest pun mulai berkibar.

Kami sampai di Bogor sekitar jam 21.00 dan drama kami di kota hujan dimulai dari sini. Drama dimulai karena kami tak menemukan satu pun angkot di terminal Baranangsiang malam itu (*zyeah, para mamang angkot di Bogor lagi demo). Sebenernya saat siang kami sudah mengecek google map dan menurut google, wisma tempat kami menginap berada di ujung lain Kebun Raya Bogor, yang artinya kami hanya perlu memutari Kebun Raya Bogor untuk sampai ke sana. Sebagai pecinta jalan kaki, ide untuk jalan kaki selalu ada dalam opsi kami, tapi saat menanyakan ke seorang polisi yang sedang berjaga, beliau menyarankan kami untuk naik ojeg dengan tarif 20.000 yang membuat nyali kami untuk berjalan langsung menyusut. 20.000 naik ojeg berarti jauh kan?!

Di tengah kami yang sedang “menboong” karena tarif ojeg, si bapak polisi malah berinisiatif memanggil seorang tukang ojeg kenalannya dan si mamang ojeg menawarkan tarif 5000 lebih mahal alias 25.000. Merasa tak punya pilihan lain, akhirnya kami memutuskan untuk menggunakan jasa mamang ojeg kenalan pak polisi tersebut. Keputusan yang disesali namun memang harus disyukuri, karena ternyata Kebun Raya Bogor luas banget (T.T), perkiraan kami yang berpikir Kebun Raya Bogor paling sebesar Balai Kota Bandung ternyata salah besar, jalan dari Baranangsiang ke wisma di jalan Sudirman ternyata sama jauhnya kaya dari Cileunyi ke Bunderan Cibiru. Bayangan jalan kaki dari KLCC sampai Bukit Bintang pas tengah malam yang pernah kami lakukan di tahun 2015 pun tiba tiba menari di atas kepala, oh please, pengalaman melelahkan nan horor yang ogah ku ulangi lagi.

Sesampainya di wisma kami langsung beristirahat, lalu bersiap dan bergegas terbang ke alam mimpi, karena jam 8 pagi, aku harus sudah ada di SICC dan demi penampilan yang fresh kaya jeruk di supermarket, aku harus tidur cukup.

Sekitar jam 4 subuh aku sudah bangun dan cukup terkejut karena keadaan kamar benar-benar gelap gulita karena mati lampu. Untungnya ga lama setelah aku bangun, listrik mulai menyala dan kami pun bisa mulai bersiap-siap untuk ke SICC sehingga jam 6.30 kami bisa keluar untuk sarapan. Kelebihan wisma ini adalah mereka menyediakan sarapan, walaupun cuma nasi goreng pedas, telur dadar, gehu pedas dan teh manis tapi tetap harus disyukuri karena semua itu menghemat biaya perjalanan kami.

Selesai sarapan kami langsung bergegas untuk menuju halte Botani Square, dengan angkot 07 B yang sampai sekarang kami ga ngerti cara bedainnya kecuali tanya sama supirnya (X_X).

Sesampainya di halte Botani Square, drama kedua kami di Bogor pun dimulai. Menurut mbah google, kami bisa ke daerah Sentul dengan Trans Pakuan dari halte Botani Square, tapi nyatanya bus Trans Pakuan sudah tidak beroperasi dan menurut seorang polisi yang berjaga di dekat halte, kami bisa ke daerah Sentul dengan naik mobil pribadi yang beralih fungsi menjadi semacam angkot, yang artinya adalah, kami nunggu di halte, tapi kami ga tau apa yang sebenarnya kami tunggu. Setelah tanya sana sini, banyak orang yang menyarankan untuk menaiki taksi online, dan saat itu juga, aku langsung meng-install aplikasi taksi online dan memesan taksi online dengan tujuan SICC. Untungnya tidak ada drama lain saat bersama mamang taksi online, karena jujur kami sempat agak parno dengan berbagai macam kejadian yang melibatkan sopir taksi online dan sopir angkutan lain.

Sekitar jam 8.00 kami sudah sampai di SICC dan SICC ternyata sudah menjadi lautan manusia. Aku pun memutuskan untuk berpisah dengan temanku dan mencari barisan untuk segera masuk ke dalam SICC. Aku ga ngecek jam lagi sampai sekitar jam 14.30, karena rangkaian acara psikotest yang sangat lama itu sudah dimulai dan di SICC minim sinyal, jadi ya sudahlah.

IMG20170322072858
Jam 14.30, rangkaian acara psikotest untuk batch-ku sudah selesai, tapi aku belum bisa pulang ke Bandung karena masih menunggu temanku. Bayangan tes Pauli yang aku kerjakan saat psikotest terus menghantui, bahkan ketika ayam kaepci yang hari itu terlihat begitu menggairah seperti Jonghyun yang topless saat menyanyikan Internet War sudah ada di depanku. Aku berpikir, sebegitu leletnya kah aku menghitung sampai ketika mbak di sebelahku ganti kertas, aku baru ngebalik kertasnya?! Dan karena pikiranku yang terlalu fokus ke si tes pauli membuatku tak sadar kalau mocca float-ku kemasukan lalat (*argggghhh, team radio ferrari penuh sensor itu pun mulai menggema di kepalaku (T.T)).
IMG20170322153630
Akhirnya aku menunggu temanku tanpa mocca float, padahal temanku baru selesai sekitar jam 7 malam. Dan ketika kami berdua bertemu kembali ternyata si tes pauli langsung menjadi topik utama, kami pun sampai pada kesimpulan kalau kami sudah tidak terlalu berharap untuk lolos ke tahap berikutnya (*ini antara pesimis dan tau diri).
IMG20170322084149
Sekitar 20.00 kami pun memutuskan untuk kembali menggunakan taksi online menuju terminal Baranangsiang, tapi sayangnya harga taksi online melonjak lebih dari 2x lipat untuk perjalanan SICC – Baranangsiang dan karena temanku sempat ditawari oleh mobil pribadi yang merangkap angkot di sekitaran bunderan LOVE Sentul City, kami pun memutuskan untuk kembali ke sana. Tapi sayangnya mobil itu sudah tidak ada, dengan hopeless-nya kami menunggu di sana sambil melambaikan tangan ala tokoh film meminta tumpangan, sayangnya ga ada satu pun yang berhenti. Eh, ada deng satu, seorang mbak baik hati yang menawari kami tumpangan ke arah Bekasi dan Cikarang yang akhirnya kami tolak, karena Ria lupa kalau ada Primajasa Garut – Bekasi dan Budiman Tasik – Cikarang yang sebenarnya bisa mengantar kami menuju ke Cileunyi tercinta (T.T).

Akhirnya kami menunggu dan menunggu lagi, sambil ngabsen mobil plat D yang lewat tapi sayangnya ga ada satu pun yang menawarkan tumpangan kaya mbak mbak tadi. Dari tempat kami menunggu, tiba tiba kami melihat sebuah benda biru besar menuju arah Sentul City, “itu bus MGI bukan sih?” kataku. Aku dan temanku langsung berlari ke arah bunderan LOVE. Karena kami pikir bus itu menuju arah Bogor, kami langsung menyebrang berharap menemukan bis ke arah Bandung, tapi bus ke arah Bandung sama sekali tak menunjukan tanda tanda akan datang.

Di tengah ke-hopeless-an yang hakiki, kami berdua sempat mencegat sebuah mobil dan meminta tumpangan ke terminal Baranangsiang namun si mobil ternyata menuju mall Bellanova (T.T). Kami pun terpaksa menunggu lagi.

Pepatah yang mengatakan “jodoh tak akan ke mana” mungkin benar dan aku memang lebih berjodoh dengan si bus. Hohoho. Karena di tengah kami yang semakin hopeless, kami melihat bus MGI jurusan Bandung-Bogor, tanpa pikir panjang kami langsung berlari ke arah bus tersebut dan bertanya, “ini ke Bandung kan?” dan bapak kondektur bus langsung membuka pintu bus dan kami pun langsung bersorak kegirangan seperti menemukan emas satu kilo.

IMG20170322202837
Tapi kejutan tak berhenti di situ, karena ketika kami naik ke atas bus, tiba tiba kami disambut dengan meriah lewat kata, “SELAMAT DATANG DI BANDUNG!” yang kalau dipikir pikir terasa menyebalkan namun membuat lega karena kami merasa ga cuma berdua. Zyeah, sudah ada beberapa orang peserta psikotest dari Bandung di dalam bus itu. Busnya serasa disewa oleh kami karena busnya jadi rame dan berisik. Kami bahkan membentuk grup di WA dengan nama MGI Bandung – Bogor.
Screenshot_2017-03-25-08-36-25-47
Sekitar tengah malam aku dan temanku baru sampai di Bandung, walaupun sempat terjadi sedikit drama di rest area karena salah satu penumpang bus sempat hilang namun akhirnya kembali juga. Untung si mas yang hilang balik lagi kalau ga, bakal jadi kisah horor deh perjalananku ini.

Kembali dengan selamat ke Bandung artinya selesai sudah kisahku yang penuh dengan segala hal tak terduga, dari mulai ngojeg 25.000, install macam macam aplikasi dadakan karena walaupun punya hape pinter ai yang punya gaptek mah asa ga kerasa pinternya, sampai drama menemukan bus yang udah mirip kaya drama nyari jodoh.

Seperti biasa aku memang ga pernah pandai menuliskan akhir cerita, tapi kali ini, aku cuma pengen bilang, aku benar benar kehilangan Damri. Sebagai warga Bandung yang sangat bergantung pada Damri, berada di Bogor, kota tanpa Damri, membuatku kesulitan setengah mati (T.T) I Love You, Damri.

Salam,
IMG20170322072909
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s