The Story By Ria (An Encore): 12 Jam di Singapura

26 Oktober 2015

Hari ini aku terbangun di atas sebuah kereta yang akan membawaku ke Johor Bahru, walaupun ini adalah kereta tidur yang menyediakan bantal serta kain tipis pengganti selimut, rasanya tetep aja beda. Tak berniat untuk tidur lagi, aku membuka jendela yang sebelum tidur sempat aku tutup karena tidak kuat dengan silau cahaya lampu dari luar. Suasana mellow sisa tadi malam masih menyelimuti aku, apalagi saat si Senandung Sutera ini berhenti di sebuah stasiun yang tampak sepi. Tak lama seorang petugas yang bertugas membangunkan penumpang mulai berjalan sepanjang lorong dan membuatku membuka gorden yang membatasi tempat tidurku dan lorong. Masih sepiiiiii dan segala kemellowan yang aku buat tadi malam makin memperparah suasana pagi ini.

Sekitar jam setengah 6 pagi waktu Malaysia, aku berhasil menginjakkan kakiku di Johor Bahru, kota yang menjadi salah satu jalan masuk menuju Singapura. JB Sentral yang menjadi tempat pemberhentianku waktu itu masih sepi, tapi penunjuk arah di sana sangat jelas sehingga aku tak tersesat saat mencari surau ataupun toilet. Selesai dengan segala urusan yang selalu membuat heboh saat pagi, aku dan dua temanku memutuskan untuk sarapan di JB Sentral, untungnya masih punya beberapa ringgit untuk beli nasi lemak + telor balado + teh tarik hangat.

Selesai sarapan, aku langsung menyebrang ke gedung CIQ (*aka Imigrasi) yang terletak di seberang JB Sentral, gedung yang sangat sibuk di senin pagi bagi warga Johor yang bekerja di Singapura. Setelah mendapat cap tanda keluar dari Malaysia, aku mulai mencari petunjuk menuju halte bus CW2 yang akan membawaku ke Queen St., Singapura. Perbatasan Singapura – Malaysia sangat sibuk dan macetnya udah mirip mirip seperti saat Ria terjebak di Tol Lingkar Luar Jakarta pas mau ke Depok (*mana ini berdiri), tapi sensasi melewati perbatasan dua negaranya sungguh luar biasa. Sebelum bus sampai ke Woodlands CIQ (*imigrasi Singapura) para penumpang sudah boleh turun dari bus, jadi aku mulai berjalan mengikuti orang lain untuk sampai ke Woodlands CIQ. Berbeda dengan di Malaysia, di Singapura, aku harus mengisi kartu kedatangan (*siapkan pulpen karena si bapak imigrasinya tidak meminjamkan pulpen) yang nantinya akan ada bagian tertentu yang harus dikembalikan saat aku pergi meninggalkan Singapura. Seperti biasa, tidak ada masalah yang berarti di imigrasi, karena aku hanya beberapa jam saja di Singapura (*sore nanti, aku sudah harus ada di Bandara untuk kembali ke Bandung), jadi aku bisa langsung mengantri untuk melanjutkan perjalananku dengan bus CW2. Di Woodlands, antrian bus CW2 ini yang paling panjang dan busnya lumayan agak lama, jadi bersabarlah Ria xD.

bus CW2-nya masih disponsori Wafda
bus CW2-nya masih disponsori Wafda

Akhirnya bus CW2 yang aku tunggu datang juga dan harus bersyukur karena kali ini aku mendapatkan tempat duduk, jarak dari Woodlands CIQ ke Queen St. Terminal lumayan jauh dan aku ga bisa liat pemandangan karena jendela busnya lebih tinggi dari pada bangku yang aku duduki. Entah jam berapa aku sampai di Queen St. Terminal, yang pasti dari sana aku langsung ke Bugis buat beli oleh oleh(*jaraknya deket dan bisa sampai hanya dengan jalan kaki). Oya, karena sudah sarapan di JB Sentral, aku jadi punya 10 SGD (*jatah sarapan) yang akhirnya aku bisa aku belikan 4 buah baju.

Dari Bugis, aku langsung menuju Merlion Park (*spot wajib foto-foto kalau lagi di Singapura). Dan ternyata ga sulit untuk menemukan si ikon Singapura ini. Tinggal naik MRT dari stasiun MRT Bugis sampe stasiun MRT Raffles Place, keluar di pintu H, belok kanan, susuri Singapore River, nyebrang jalan dan voailaaaa~~ si Singa pun sudah terlihat di depan mata.

Singapore river
Singapore river
Cuci tangan pake merlion xD
Cuci tangan pake merlion xD
Tempat nonton F1
Tempat nonton F1

Dari Merlion Park, aku dan dua temanku langsung menuju Sentosa Island, tapi sebelum masuk ke stasiun MRT, aku sempet beli es krim 1,20 SGD yang sering aku baca ceritanya setiap baca blog orang yang habis jalan jalan ke Singapura.

Maaf, udah digigit jadi ga bagus fotonya
Maaf, udah digigit jadi ga bagus fotonya

Untuk sampai ke USS, dari stasiun MRT Raffles Place kami naik MRT dan transit di stasiun MRT Outram Park, lalu ganti MRT dengan tujuan Harbour Front (*petunjuk petunjuk yang tersedia di stasiun hanya perlu diikuti dan Ria sudah bisa menemukan jalan yang benar xD), dari stasiun MRT Harbour Front, aku langsung naik ke lantai 3 Vivo City Mall, karena aku akan naik Sentosa Express untuk masuk ke Sentosa Island. Dengan harga 4 SGD dan aku udah bisa foto di depan bola dunia yang terkenal itu, singa warna warni, bapaknya mbah Singa yang di Singapore River dan Siloso Beach (T.T)

Jpeg

Jpeg Jpeg 1445854451028

Aku emang ga terlalu lama di Sentosa Island karena badan emang udah sulit diajak kompromi dan mood jalan jalan pun emang udah tinggal keraknya. Jadi beres dari Sentosa Island, aku pun langsung menuju Changi Airport dengan MRT (*tadinya berharap dapet diskon dari kartu MRT yang aku beli di stasiun MRT Bugis, tapi apa daya si mesin tiket ga bisa ngasih kembalian lebih dari 4 SGD, jadinya aku beli baru dan punya 2 kartu MRT dari Singapura).

Jpeg

Sampai di Changi, aku langsung menuju Terminal 1, ngurus imigrasi dan nyari colokan karena hape-ku hampir mati. Setelah si hape menemukan nyawanya yang hampir hilang karena habis daya, saatnya nyoba wifi Changi yang kenceng banget. Di Changi, aku emang merelakan diri jadi penunggu tas saat temen temenku nyari makan siang, karena kakiku udah bener bener sakit (T.T). Dan rasanya antara seneng atau pengen nangis, ketika akhirnya temenku bawa menu makan siangku yang tak lain dan tak bukan adalah sepotong sandwich (*sisa uang 8 SGD dan masih bisa beli makan siang, gimana aku ga terharu) (*dan serius, ini bikin kenyang). Beres makan siang, akhirnya aku berhasil nyoba alat pijet kaki dan betis yang dari tadi terdampar tanpa penumpang(?) di depan tempat aku duduk (*dan itu enakkkk banget, benerannnn).

Sandwich yang harganya bikin nyesek kalau dikonversi ke rupiah
Sandwich yang harganya bikin nyesek kalau dikonversi ke rupiah

Jpeg

Perut kenyang karena sandwich, hati senang karena udah dipijet, bikin mood-ku buat ngalay di Bandara mulai tumbuh, sebenernya pengen foto di depan Shilla Duty Free, tapi karena ga nemu satu pun yang berhubungan dengan model iklannya (*baca: SHINee), jadilah si aku memilih ngalay di travellator bersama trolley dan barang bawaanku, sekalian jalan menuju ruang tunggu dekat gate D32 juga.

Jpeg

Selagi menunggu untuk masuk pesawat, ternyata di ruang tunggu dekat gate sedang memutar siaran ulang MotoGP Sepang, lumayan bisa denger interview sebelum podium karena pas di Sepang ga kedengeran sama sekali (*dan wawancara Hohe-nya dipotong dong). Dan sempet kaget waktu liat klasemen sementara setelah balapan di SIC, karena Dani berhasil masuk 4 besar klasemen doooonggggg berkat kemenangan di Sepang kemarin \(>.<)/, tapi acara nontonnya ternyata harus segera diakhiri ketika mbak pramugari mulai memanggil penumpang untuk masuk ke pesawat (*kali ini, aku ga duduk berurutan dengan kedua temanku, jadi sepanjang penerbangan ke Bandung, aku habiskan dengan tidur, lagi pula tak ada yang menarik di luar jendela pesawat, setelah pemandangan lampu Singapura mulai menghilang tertutup awan dan jerebu). Tapi beberapa menit sebelum mendarat, aku udah bangun dan bisa melihat pemandangan indah dari lampu lampu yang ada di Bandung ketika malam (*sayang ga ada fotonya, karena saat mendarat hp emang harus mati).  Seneng aja ngeliat tempat tempat macam BIP, BEC, BalKot dalam bentuk yang sangat kecil. Dan akhirnyaaaa… aku mendarat di Husein Sastranegara yang sempit (*karena emang lagi ada proyek perluasan juga sih) dan siap untuk kembali ke Cileunyi tercinta.

Jpeg

Selesai sudah ceritaku selama 5 hari berada di negeri orang, jika ada yang bertanya arti perjalanan ini untukku, maka aku akan jawab, perjalanan ini adalah senyum, pengalaman, kenangan, istirahat dan juga sesuatu yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya. Aku ga tau kenapa aku memasukan kata “istirahat”, padahal jadwal tidurku sangat kacau karena perjalanan 5 hari ini, tapi biarlah itu menjadi misteri yang mungkin akan terjawab ketika aku melakukan perjalanan berikutnya =)).

Pengeluaran hari kelima:

Sarapan di JB Sentral 7,20 RM

(7,20 x 3365 = RP 24.288)

Kaos SIN di Bugis St. 4biji 10,00 SGD

MRT Bugis – Raffles Place 1,00 SGD

Es Krim 1,20 SGD

Air minum 1,00 SGD

MRT Raffles Place – Harbour Front 1,20 SGD

Sentosa Express 4,00 SGD

MRT Harbour Front – Changi Airport 2,10 SGD

Sandwich Subway 7,50 SGD (*ga tau harga pastinya, tapi dari 30 SGD, sisa 2 SGD)

Total hari kelima = 28 SGD ( 28 x 9850 = RP 275.800)

Xoxo @riyuliani

Advertisements

One thought on “The Story By Ria (An Encore): 12 Jam di Singapura

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s