Mengejar Cinta Bang Dani: Membuat Paspor

Hha… Akhirnya aku nulis lagi… Dan kali ini pengalaman yang aku bagi adalah salah satu persiapan untuk merilis sebuah pengalaman lain berjudul “Mengejar Cinta Bang Dani”.  Yes, pengalaman itu adalah… jrengggg… jrenggggg… membuat paspor.

 

Sebenernya ini pengalaman yang lumayan singkat, tapi agak berkesan, karena kejadiannya H-1 ulang tahun aku. Yay!! Kado dari Ria untuk Ria :p

 

Sebelum membuat paspor, ada beberapa yang harus aku siapkan dulu sebelumnya:

  1. KTP (Fotocopy dan aslinya)
  2. Kartu Keluarga (Fotocopy dan aslinya)
  3. Akte Kelahiran (Fotocopy dan aslinya)
  4. Materai 6000
  5. Uang Rp. 360.000 (Dibayar via BNI)

 

p.s: format untuk fotocopy KTP agak berbeda, jadi aku memutuskan untuk memfotocopy-nya di fotocopy-an dekat imigrasi

 

Setelah kelima barang di atas sudah lengkap, waktunya Go! Go! ke imigrasi kota Bandung yang terletak di Jl. Suci (*ga tau alamat lengkapnya karena aslinya saya orang kabupaten Bandung).

Penampakan kantor imigrasi...
Penampakan kantor imigrasi…

Ketika aku sampai di kantor imigrasi, keadaan sudah cukup ramai, walaupun antrian untuk yang sudah terlebih dulu mendaftar online jauh lebih pendek. Dan sempat terjadi sedikit kebodohan ketika aku mengambil nomor antrian, sehingga aku lumayan lama menunggu nomorku dipanggil (*ya, aku malah mengisi borang pendaftaran dulu, lalu mengambil nomor antrian, padahal harusnya mengambil nomornya dulu baru mengisi borang -__-‘ tapi ahhhh sudahlahhhh…)

 

Antrian untuk wawancara...
Antrian untuk wawancara…

Dan setelah sekian lama menunggu, akhirnya nomorku dipanggil juga. Aku masuk ke suatu lorong khusus untuk diwawancara tentang alasan membuat paspor, yang mengakibatkan terjadinya dialog sbb. (*seinget aku):

 

Bapak Imigrasi (*yang selanjutnya akan aku tulis B.I 1): “Bikin paspor mau ke mana?”

 

Ria: “Malaysia.”

 

B.I 1: “Mau jadi TKW?”

 

Ria: “Engga lah, pak, saya kan masih kuliah.”

 

B.I 1: “Oh, masih kuliah. Punya fotocopy KTM-nya engga?”

 

Ria: “Ada, pak!” (*ngeluarin fotocopy KTM yang langsung ditempelin di bawah fotocopy-an KTP sama Bapak-nya)

 

B.I 1: “Baru masuk ya?”

 

Ria: “Engga kok, pak, saya udah mau semester 7.”

 

B.I 1: “Masa?”

 

Ria: “Iya pak, badan saya kecil sih jadi engga keliatan.” (*ketawa)

 

B.I 1: “Iya, badan kamu kecil, engga pernah makan ya?”

 

Ria: “Makan lah, pak, tapi lagi ngirit kan mau ke Malaysia.”

 

B.I 1: “Mau ngapain emang ke Malaysia.”

 

Ria: “Mau nonton MotoGP!”

 

B.I 1: “Oh, mau liat Marquez?”

 

Ria: “Saya mah ga suka Marquez, suka temen setimnya.”

 

B.I 1: “Emang siapa temen setimnya Marquez?” (*si Bapak-nya kaya ngajak ribut)

 

Ria: “Pedrosa, pak! Masa ga tau? Padahal kan paling ganteng.”

 

B.I 1: “Oh, mau liat Pedrosa.”

 

Ria: “Tapi kalau Marquez pengen banget ketemu saya sih, saya mah seneng seneng aja.”

 

(*terus bapak imigrasi di sebelah kanan aku yang selanjutnya akan disebut B.I 2 tiba-tiba ikut nimbrung, padahal di depan si bapak itu ada bapak lain yang mau perpanjang paspor)

 

B.I 2: “Ngapain sih nonton MotoGP kan cuma liat motornya lewat doang? Kan mending nonton di TV aja.”

 

B.I 1: “Mau liat Pedrosa katanya, pembalap paling ganteng.” (*dan dua bapak ini langsung ngomongin Dani yang belum pernah juara dunia T.T, karena percakapannya agak bikin hati panas jadi di skip aja)

 

Ria: (*cuma bisa nyengir kuda) “Mamah saya bilang gitu juga sih. Tapi kan feel-nya beda, pak. Dan siapa tau kalau saya nonton langsung, Pedrosa tiba-tiba jadi juara dunia.” (*dan pernyataan ini langsung bikin si dua bapak imigrasi ini senyum senyum gaje)

 

B.I 1: “Udah ngobrolnya, sekarang foto dulu.”

 

(*foto pertama)

 

B.I 1: “Bagus engga? Atau mau diulang?”

 

Ria: “Ulang deh.”

 

(*foto kedua)

 

B.I 1: “Senyumnya terlalu lebar.”

 

(*foto ketiga)

 

B.I 1: “Yang ini aja ya?!”

 

Ria: “Okay!”

 

Dari sini mulai heningggg… Dan sambil nunggu si bapak imigrasi 1 yang lagi ngotak ngatik komputernya buat print slip pembayaran dan slip pengambilan paspor tiga hari yang akan datang, sempet denger percakapan si bapak imigrasi 2 dengan seorang bapak yang mau perpanjang paspornya, tapi anehnya si bapak imigrasi 2 itu keliatan bete pas si bapaknya bilang kalau mau perpanjang paspor buat jaga-jaga aja. (*jadi agak bersyukur tadi jawab mau ke Sepang dengan pede-nya :p)

 

Dan akhirnya slip-nya pun selesai di-print, yang langsung disimpen si bapak imigrasi 1 di depan aku tanpa kata.

 

Ria: “Eh, ini tagihannya?”

 

B.I 1: “Iya, itu slip tagihan BNI sama slip pengambilan tiga hari lagi di konter yang sebelah sana.” (*sambil nunjuk konter pengambilan paspor)

 

Ria: “Oh, okay, pak! Ini udah kan?”

 

B.I 1: “Iya udah.”

 

Ria: “Ya udah, saya pergi ya, pak. Makasih.” (*dan aku pun keluar dari lorong wawancara dan pulang)

 

Sampai sekarang aku ga ngerti kenapa dialog seperti di atas bisa terjadi, soalnya beberapa temenku yang pernah bikin paspor, bilang kalau bapak-bapak di imigrasi itu ga kaya gitu pas wawancara. Dan awalnya pun aku kira si bapak imigrasi yang ngajak aku ngobrol pun itu agak jutek mukanya (*terus jadi inget bapak sopir taksi yang ngajak ngobrol waktu nge-taksi dari jatinangor ke pasteur :p, yang aku kira jutek, ehh ternyata asik diajak ngobrol).

 

Tiga hari kemudian, aku balik lagi ke kantor imigrasi buat ngambil paspor (*bayar ke BNI-nya udah di hari yang sama saat buat paspor), antrian buat pengambilan paspor itu pendek, karena emang cuma tinggal tanda tangan, ambil paspornya dan pulang sih. Dan sekarang aku udah punya paspor, yang artinya udah selangkah lebih dekat dengan cita-citaku “Mengejar Cinta Bang Dani”. Hha… (*ketawa a la Kibum) Dan inti dari pengalaman ini sih sebenernya ngajarin diri sendiri untuk belajar mandiri buat ngurus dokumen negara :p (*karena biasanya cuma tau beres aja)

 

Antrian di konter pengambilan paspor...
Antrian di konter pengambilan paspor…

Selanjutnya, mari mencari tiket pesawat, tiket motoGP usw. u. sofort… Fightingggggggg!! Karena seperti kataku setiap kali Dani dateng ke Indonesia tapi aku ga pernah punya kesempatan untuk ketemu, “Kalau aku ga bisa ketemu kamu di Indonesia, biar aku yang ngejar kamu ke Sepang (*atau mungkin ke Swiss), Dan!!!!!!”

 

Penampakan pasporku... Paspor punya aku...
Penampakan pasporku… Paspor punya aku…

@riyuliani

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s